MEMOTIVASI DIRI UNTUK MENGATASI STRES DALAM RANGKA MENINGKATKAN KINERJA GURU
Oleh:
M. As ‘ad Djalali
[1] Makalah ini disajikan dalam rangka seminar Usaha Menanggulangi
Gejala Stres dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup di kalangan
profesional , 8 September 2002. Di Gedung Serbaguna IKIP PGRI
Banyuwangi.
I. PENDAHULUAN
Titik berat pembangunan pada pertumbuhan ekonomi
ternyata hanya menghasilkan krisis multidimensi yang berkepanjangan. Hal
ini terjadi karena fundamental ekonomi tidak dibangun atas kemampuan
sendiiri. Ke depan Indonesia akan menitik beratkan pada pembangunan
pendidikan dan sumber daya manusia dengan mengalokasikan dana sebesar 20
% dari APBN. Kekayaan alam yang melimpah dengan sumber daya manusia
lebih dari 200 juta belum mampu keluar dari krisis, bahkan hanya
terkenal sebagai pemasok tenaga kerja rendahan. Ini disebabkan karena 70
% SDM kita hanyalah lulusan SD. Perlu dicermati oleh semua pihak,
kualitas pendidikan kita saat ini ada pada urutan ke 112 dari 162 negara
jauh lebih rendah dari Malaysia yang ada pada urutan ke 50 dan Vietnam
di urutan ke 111 ( Wapres, lih. Kompas, 24-8-002; Republika, 28-8-002).
Membiracakan masalah pembangunan di bidang pendidikan, tidak bisa
terlepas dari persoalan mengenai kinerja para guru. Guru adalah
sumberdaya yang paling menentukan dalam proses belajar mengajar. Guru
adalah penentu utama dalam rangka mencapai keberhasilan pendidikan
khususnya pendidikan formal. Sebaik apapun kurikulum disiapkan, tetapi
tanpa disertai kesiapan para guru untuk melaksanakannya dengan kualitas
kinerja yang memadai, tujuan dari proses belajar mengajar pada khususnya
dan tujuan dari pendidikan pada umumnya tidak akan tercapai.
Kinerja guru yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan aktivitasnya sebagai penanggungjawab utama dalam upaya layanan
transfer of knowleadge kepada masyarakat, terutama kapada anak
didik. Guru bertugas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknologi
terhadap anak didiknya. Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini
berkembang begitu pesat. Dalam kaitannya dengan hal tersebut guru harus
memiliki kesadaran dan motivasi yang tinggi untuk selalu mengikuti
perkembangan tersebut untuk terus menambah wawasan. Ini membutuhkan
pengorbanan pikiran, tenaga dan tentunya biaya. Masalahnya sekarang
kinerja guru banyak dipersoalkan, karena mereka sendiri banyak
menghadapi persoalan.
II. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA GURU
1.Faktor Eksternal.
Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang dalam
dunia kerja adalah lingkungan kerja. Lingkungan kerja dimaksud adalah
pola manajemen yang berlaku, iklim organisasi serta kolega di tempat
kerja (Steer dan Porter, 1979). Khusus dalam dunia pendidikan Galloway
dkk (1985) menyusun skala lingkungan kerja dalam lima bagian yaitu
sistem administrasi, kondisi pekerjaan dan kondisi anak didik, interaksi
antar sesama kolega, prestise sebagai guru serta kemandirian yang
diberikan oleh lembaga / birokrasi untuk melakukan aktivitas profesi.
Sistem administrasi di sini meliputi sistem insentif seperti sistem
panggajian, promosi, jaminan kesehatan dan tunjangan hari tua. Hal ini
berkaitan erat dengan motivasi kerja dan komitmen seseorang terhadap
pekerjaanya (Oliver, 1990). Sistem administrasi khususnya yang
menyangkut masalah insentif, seperti gaji dan insentif finansial yang
lain seperti tunjangan funsional dan lainnya berkaitan erat dengan
kebutuhan dasar manusia (Petri, 1981 dan Franken, 1982). Mungkin inilah
yang menjadi dasar pertimbangan utama kenapa seseorang mau menjadi guru.
Kondisi pekerjaan adalah aitem-aitem yang merupakan substansi
tugas-tugas yang harus dilakukan dalam jam-jam tertentu. Ini menyangkut
kurikulum, materi pelajaran, jadwal mengajar, atau segala sesuatu yang
berkaitan dengan masalah proses belajar-mengajar. Kondisi anak didik
meliputi potensi (fisik & psikologis), serta perhatian dan
apresiasinya terhadap misi yang diemban oleh guru. Kondisi ini
berkaitan dengan gairah mengajar para guru. Kondisi pekerjaan dan
kondisi anak didik yang baik akan memiliki valensi positif bagi guru.
Hal ini berkaitan erat dengan teori valensi dari Kurt Lewin (Pervin,
1984; Hall dan Lindzey, 1985). Apabila kondisi pekerjaan memiliki
valensi positif, maka individu tentunya akan bergairah untuk
malakukannya, tapi sebaliknya apabila memiliki valensi negatif maka yang
bersangkutan menjadi tidak termotivasi bahkan bisa jadi akan mangkir
dari tugasnya.
Kumpulan individu-individu dalam lingkungan pekerjaan merupakan
social network
yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Dalam suatu kelompok kerja
pengaruh seseorang terhadap orang lainnya tidak bisa dihindari
(Kilduff, 1992). Ini disebabkan karena manusia memiliki salahsatu sifat
dasar yaitu sifat koformitas. Konformitas merupakan tendensi untuk
melakukan sesuatu karena pengaruh orang lain dikelompoknya (Steer dan
Porter, 1979; Goldenson, 1984). Pengaruh tersebut bisa positif bisa pula
negatif, tergantung bagaimana baik buruknya kondisi individu-individu
yang ada.
Prestise yang melekat pada suatu pekerjaan juga mempengaruhi kinerja
seeorang. Salahsatu yang menjadi sebagai alasan kenapa manusia memilih
pekerjaan tertentu yaitu pristise dari dan melekat pada pekerjaan
tersebut. Pristise dimaksud, adalah
image positif terutama di
mata masyarakat mengenai pekejaan tersebut. Kalau insentif finansial
berkaitan dengan kebutuhan fisiologis seperti pangan, sandang dan papan;
prestise ini berkaitan dengan salahsatu kebutuhan psikologis manusia
yaitu
self esteem (kebutuhan akan penghargaan diri). Pekerjaan
yang memiliki pretise atau gengsi, akan memberikan nilai tambah bagi
individu yaitu yang bersangkutan akan memiliki status sosial yang tinggi
di mata masyarakat akan mempengaruhi kinerja yang bersangkutan
(Baumeister dkk, 1989). Hal ini jelas akan mempengaruhi kinerja individu
yang bersangkutan. Bagaimana dengan pristise sebagai guru ?
Kebebasan yang diberikan oleh atasan pada seorang guru akan
mempengaruhi kinerja yang bersangkutan. Dalam suatu institusi pimpinan
mendelegasikan tugas-tugas dan tanggung jawab kepada stafnya (Newman,
1963). Dalam hal ini guru sebagai staf, seyogyanya diberi kepercayaan,
kebebasan dan tanggung jawab penuh secara mandiri untuk melakukan
profesinya sesuai dengan program yang ada. Kebebasan ini akan
menimbulkan gairah kerja, membebaskan individu dari kondisi stres dan
emosi yang berlebihan serta dapat meredusir kondisi
cognitif dissonance (Sylva,
dkk. Lih. Franken, 1982). Hal tersebut juga merupakan pengakuan akan
eksistensi individu di mana hal ini berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan akan aktualisasi yang bersangkutan.
Kelima faktor sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, merupakan
kondisi eksternal yang dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan
tugasnya dengan kinerja yang baik, tetapi faktor-faktor di atas dapat
juga menjadi sumber stres bagi yang bersangkutan.
2. Faktor internal.
Faktor internal yang mempengaruhi kenerja seseorang meliputi
kemampuan dasar yaitu latar belakang pendidikan, inteligensi, bakat,
minat serta motivasi.
Latar belakang pendidikan adalah penunjang utama bagi seseorang untuk
melakukan tugas pekerjaanya secara baik. Untuk menjadi guru seyogyanya
berlatar bekaang pendidikan guru.
Intelligensi merupakan suatu indikator dari kemampuan seseorang untuk
berprestasi (Messe dkk, 1979). Inteligensi menurut Spearman merupakan
kemampuan mental yang digunakan untuk memprediksi kemungkinan seseorang
dalam dunia pendidikan (Cosini, 1987). Stewart ( dalam Stanley dan
Hopkins, 1972) mengadakan penelitian dengan menggunakan inteligensi
sebagai alat prediktor terhadap berbagai macam jabatan. Dalam penelitan
yang menggunakan sampel sebanyak 90.000 orang tersebut ditemukan ada
hubungan yang signifikan antara tingkat inteligensi dengan berbagai
macam pekerjaan (43 jenis jabatan). Pekerjaan yang membutuhkan tingkat
inteligensi yang paling atas adalah jabatan akuntan dengan skor 102
s/d 132. Kedua adalah guru. Untuk menjadi guru profisien dibutuhkan skor
inteligensi 110 s/d 132, dengan rerata skor 100 dan standar deviasi 16.
Disusul kemudian dengan jabatan ahli hukum, ahli farmasi ahli pesawat
terbang sampai dengan tukang kebun.
Kinerja seseorang juga dipengaruhi oleh bakat yang ia miliki. Bakat
merupakan kemampuan khusus atau potensi seseorang untuk dilatih agar
memiliki ketrampilan tertentu atau dapat menguasai bidang-bidang
pekerjaan tertentu (Super, 1962 dan Branca, 1965). Kemampuan dan
prestasi kerja seseorang di masa yang akan datang dapat diramalkan
dengan mengetahui bakatnya (Blum, 1956 dan Maier, 1970). Ada tiga bakat
penting yang memungkinkan seseorang dapat berkembang menjadi guru yang
profisien. Pertama,
verbal reasoning atau kemampuan untuk
menalar informasi-informasi yang sifarnya verbal, kemudian dengan
alasan-alasan logis atas dasar informasi tersebut yang bersangkuatan
dapat mengambil kepusan praktis. Kedua,
abstract reasoning atau
kemampuan dalam menangkap, menalar dan memahami informasi-informasi non
verbal seperti gerak tubuh, ekspresi wajah termasuk informasi verbal
yang tidak lengkap atau tidak jelas. Ketiga,
expression atau kemampuan mengekspresikan perasaan, mengkomunikasikan pengetahuannya melalui bahasa lisan atau tulisan.
Minat seseorang juga akan menentukan kinerja seseorang dalam
melakukan tugasnya. Minat di sini adalah minat pada aktivitas-aktivitas
yang merupakan dasar dari tugas guru. Dalam hal ini ada empat bidang
minat. Petama, minat
scientific yaitu minat yang tertuju pada segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah ilmu pengetahuan. Kedua, minat
literary yaitu minat pada aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan masalah membaca dan menulis. Ketiga, minat
persuasive yaitu minat pada aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Keempat, minat
social service
yaitu minat pada aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan pelayanan
pada masyarakat. Keempat minat di atas sangat relevan untuk seorang guru
yang memiliki tugas utama mengadakan
transfer of knowleadge
yang berupa ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang begitu cepat.
Ini hanya mungkin terlaksana apabila individu memiliki minat yang
tinggi untuk selalu menambah wawasannya pada masalah IPTEK dan selalu
mengikuti perkembangannya dengan dengan berbagai aktivitas termasuk
aktivitas membaca. Dalam menyampaikan pengetahuan tadi guru tentunya
tidak cukup hanya sekedar dengan bahasa lisan saja, tetapi juga dengan
bahasa tulis. Untuk itu miat yang tiggi terhadap masalah keilmuan dan
baca tulis begitu dibutuhkan untuk seorang guru. Pekerjaan guru adalah
pekerjaan yang menuntut untuk menjalin komunikasi dan hubungan baik
dengan orang banyak, tidak hanya terbatas pada murid saja, tetapi juga
orang tua, masyarakat dan lainnya. Dalam hal ini seorang guru dibutuhkan
minat yang tinggi terdap minat hubungan interpersonal. Tugas guru
adalah tugas pengabdian yaitu memberikan layanan kepada orang banyak
setidak-tidaknya kepada murid-muridnya. Berkaitan dengan itu pula minat
social service
yang tinggi dibutuhkan untuk seorang guru. Apabila bekerja sebagai guru
didasarkan pada minat yang tinggi pada aitem-aitem aktivitas guru
seperti di atas, maka kegiatan mengajarnya bukan sebagai kegiatan
instrumental untuk mendapatkan insnetif finansial saja (Dekker, 2001),
tetapi merupakan kegiatan di mana yang bersangkutan akan mendapatkan
kepuasan pada apa yang dikerjakan
Motivasi adalah kondisi internal yang memungkinkan munculnya
perilaku, dalam hal ini tentunya prilaku yang berkaitan dengan proses
belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Menurut Ames dan Ames (1984)
ada tiga indikator motivasi guru yaitu pertama, motivasi yang
berhubungan evaluasi terhadap kemampuannya. Dalam hal ini yang
bersangkutan selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan
keilmuan dan kemampuan dirinya dalam kaitannya dengan upaya untuk
menampilkan kinerja yang merupakan refleksi kemampuan mengajar yang
prima. Kedua, motivasi yang berorientasi pada pelaksanaan tugas secara
sempurna, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan anak didik.
Ketiga, motivasi yang berkaitan dengan tanggung jawab moral dan sosial.
Dalam melakukan aktivitas mengajarnya selalu didasarkan pada
kaidah-kaidah moral dan tanggung jawab sosial. Atas dasar hal yang
demikian, yang bersangkutan akan diliputi oleh perasaan bersalah dan
berdosa apabila tidak melakukan tugasnya dengan baik.
III. STRES YANG DIALAMI PARA GURU.
Stres adalah suatu kondisi yang secara psikologis memberi tekanan
pada seseorang. Dalam kehidupannya, manusia tidak mungkin dapat terlepas
dari masalah stres ini; bahkan dalam kadar tertentu stres ini memang
dibutuhkan oleh manusia. Karena tanpa stres manusia tidak akan
berkembang; sebab secara psikologis pada dasarnya perkembangan manusia
adalah bagaimana individu mencari cara tertentu dalam mengatasi
masalah-masalah yang menjadi sumber penyebab stres. Sekalipun
dibutuhkan dalam kehidupan manusia, tetapi apabila terjadi secara
berulang-ulang dan berkepanjangan tanpa adanya solusi yang tepat pada
sasaran dalam hal ini sumbernya, maka stres akan menjadi stres negatif
yang dikenal dengan distres. Distres akan menyebabkan individu akan
mengalami gangguan psikosomatis dan gangguan perilaku yang tidak
diharapkan.
Guru sebagaimana manusia pada umumnya tidak dapat juga terlepas dari
stres ini baik yang positif ataupun yang negatif (distres). Sebagaimana
yang telah dikemukakan di atas, bahwa distres yang berkepanjangan akan
menyebabkan individu mengalami gangguan psikosomatis dan gangguan
perilaku. Misalnya hipertensi, gangguan pencernaan, saluran pernafasan
dan gangguan lain yang bersifat fisiologis. Gangguan perilaku seperti
mangkir dari pekerjaan (bolos) gangguan emosi, perilaku agresif dan
perilaku-perilaku lain yang tidak akseptabel.
Sumber stres yang dialami para guru mungkin bersumber dari kedua
faktor seperti yang telah dikemukakan di atas yaitu faktor eksternal dan
internal. Dari faktor eksternal mungkin mucul dari sistem insentif dan
promosi. Gaji yang tidak memadai untuk kebutuhan hidup (kebutuhan
dasar). Gaji yang tidak cukup akan menjadi sumber tekanan yang akan
menyebabkan mencari jalan keluar yang justru akan menambah masalah
seperti ngutang, mangkir dari pekerjaan (bolos), pindah profesi dan
meningkatnya frekuensi kunjungan ke klinik (Davis, 1996). Sistem promosi
yang tidak
fair dan tidak transparan sangat mungkin menjadi
sebab eksternal utama dari munculnya stres yang berkepanjangan bagi
guru. Kondisi pekerjaan seperti perubahan kurikulum yang terlalu sering
juga akan menjadi sumber stres. Kondisi murid saat ini mungkin berbeda
dengan murid pada jaman dulu. Dengan gizi yang cukup, fsillitas yang
cukup, banyaknya tempat menimba pengetahuan selain sekolah, tersedianya
media informasi yang canggih memungkinkan anak didik saat ini lebih
cerdas dan lebih pintar daripada generasi sebelumnya. Ini akan
menyebabkan dua kemungkinan, pertama guru semakin bergairah untuk
mengajar atau malah bisa jadi sebaliknya yaitu menjadi sumber stres
tersendiri bagi guru. Hubungan yang kurang harmonis dengan sesama guru,
dengan kepala sekolah dan birokrasi DIKNAS serta tidak adanya
kemandirian dalam melakukan profesi juga menjadi sumber stres bagi guru.
Sebab internal dari stres yang dihadapi oleh para guru adalah
kekurang mampuan yang bersangkutan dalam beradaptasi dalam arti
mengantisipasi tuntutan jaman saat ini yang ditandai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Salah-salah mereka
bisa ketinggalan jauh dari murid-muridnya. Kondisi demikan akan
menurunkan wibawa guru di mata muridnya; di mana hal tersebut
akanmenjadi sumber stres pula bagi guru yang bersangkutan. Menjadi guru
karena terpaksa, padahal mereka tidak punya bakat dan minat untuk
menjadi guru, merupakan sebab tersendiri munculnya stres yang dialami
para guru. Sebab lainnya adalah karena motivasi menjadi guru adalah
motivasi ekstrinsik seperti untuk mendapatkan status dan imbalan
finansial. Sebetulnya hal tersebut tidakalah salah, tetapi apabila yang
didapat tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka yang akan muncul
adalah kekecewaan di mana kekecewaan tadi juga merupakan sumber dari
stres.
IV. SOLUSI YANG BISA DILAKUKAN
Karena yang menjadi sumber stres di kalangan guru adalah faktor
eksternal da faktor internal, maka solusi yang dapat dilakukan juga
bertitik tolak dari dua faktor tersebut. Pertama dari pihak pemerintah
supaya memperhatikan nasib guru, terutama yang berkaitan dengan masalah
kebutuhan dasarnya seperti pangan, sandang, papan, beaya kesehatan
keluarga, beaya pendidikan anak dan kalau perlu kesempatan untuk
rekreasi keluarga. Selain itu dana untuk peningkatan pengetahuan dan
kualitas keprofesian guru, misalnya untuk mengikuti pendidikan lanjutan
dan pelatihan-pelatian perlu dialokasikan secara optimal. Pola-pola
promosi cara lama yang yang tidak transparan, didasarkan pada
like and dislike
dan memprioritaskan siapa yang berani membayar, tidak boleh tidak saat
ini harus ditinggalkan. Masayarakat pada umumnya perlu lebih
apresiatif terhadap profesi guru sebagai pendidik dengan tindakan nyata,
tidak cukup hanya menyuguhi “nyanyian pahlawan tanpa tanda jasa” saja.
Kedua, dari pihak guru sendiri seyoyanya setiap saat memotivasi diri
dengan cara selalu mengadakan evaluasi kemampuan dirinya baik yang
menyangkut wawasankeilmuan atau kemampuan mengajarnya untuk kemudian
berusaha meningkatkannya demi memberikan pelayanan yang optimal pada
anak didik. Perlu disadari bahwa pekerjaan sebagai guru pada dasarnya
pekerjaan pengabdian dalam bentuk layanan sosial. Kemudian dalam
mengajar diniati sebagai pengabdian sekalipun kenyataannya ia
mendapatkan gaji. Dengan demikian apapun kondisi eksternal misalnya
insentif yang didapat tidak memadai, tidak akan terlalu membuat para
guru menjadi frustrasi.
Be the first to like this post.